Paradoks yang kita alami sehari – hari

Paradoks adalah hal yang nampaknya bertolakbelakang, tapi saling berkaitan. Atau berkaitan namun bertolakbelakang. Biasanya paradoks cukup erat kaitannya dengan bidang filosofi. Tetapi ada banyak paradoks yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan sehari – hari. Mari kita lihat contohnya.

BUTUH UANG UNTUK MENGHEMAT UANG.

freepik.com

Jika kita memiliki keuangan terbatas, seringkali nasihat yang kita terima adalah “beli lah yang banyak (grosir) agar dapat diskon”. Di satu sisi ini benar. Tetapi di sisi lain, ini sebenarnya tidak mudah. Kita perlu uang lebih di depan untuk bisa beli secara grosir. Kita perlu transportasi untuk bisa pergi ke tempat beli secara grosir tersebut. Kita perlu tempat penyimpanan (misal kulkas) untuk menyimpan barang grosir tersebut. Kita juga perlu transportasi untuk membawa pulang barang-barang tersebut.
Berkenaan dengan itu, diskon-diskon perjalanan dan wisata, kebanyakan justru dinikmati oleh orang yang berada. Paket wisata sering ada diskon pada saat low season, dimana hanya kelompok masyarakat dengan taraf ekonomi dan jenis pekerjaan tertentu yang dapat menikmatinya tanpa bingung memikirkan kuota cuti. Sementara pada saat hari tanggal merah, dimana orang memang normalnya libur, paket wisata dan karcis transportasi malah sedang mahal-mahalnya.

ORANG YANG TIDAK BISA MEMPERCAYAI, TIDAK BISA DIPERCAYAI.

freepik.com

Orang-orang yang sangat insecure dengan hubungan yang sedang dijalaninya, punya kemungkinan lebih besar untuk justru yang pertama merusak hubungan tersebut. Hal ini disebabkan kecenderungan alam bawah sadar untuk berpikir bahwa salah satu cara untuk seseorang melindungi diri mereka dari disakiti orang lain adalah dengan menyakiti orang lain terlebih dahulu.
Jadi, jika anda sedang berada di sebuah hubungan dimana pasangan sulit untuk percaya pada anda *tanpa alasan*, mungkin anda perlu untuk mengevaluasi apakah anda yakin ingin melanjutkan hubungan tersebut. Demikian pula jika anda sedang bekerja di sebuah tempat di mana atasan anda sulit sekali percaya pada anda, pertimbangkanlah apakah anda ingin meneruskan karir di tempat tersebut.

SEMAKIN ANDA BERUSAHA MEMBUAT ORANG LAIN TERKAGUM-KAGUM, AKAN SEMAKIN MEREKA TIDAK KAGUM DENGAN ANDA.

tulah sebabnya orang suka dengan cerita-cerita tentang underdog, yaitu orang yang tidak dijago-jagokan oleh lingkungannya, tetapi memiliki potensi, ketimbang orang yang sesumbar dengan kemampuannya atau apa yang dimilikinya.

SEMAKIN ANDA TAKUT DENGAN SESUATU, JUSTRU ANDA KEMUNGKINAN HARUS MELAKUKAN HAL TERSEBUT.

freepik.com

Kecuali hal-hal yang berbahaya seperti aktivitas fisik yang membahayakan nyawa, ada banyak kejadian yang dapat membangkitkan rasa “bertarung atau berlari” di dalam diri kita ketika kita dihadapkan dengan trauma masa lalu atau mengaktualisasikan diri kita di masa kini. Misalnya seperti berbicara dengan gebetan, berbicara di depan umum, memulai usaha, mengatakan kebenaran tapi mungkin banyak orang tidak suka, dlsb. Ini adalah hal-hal yang mungkin bisa membuat kita takut, dan hal ini membuat kita takut karena memang ada yang harus kita selesaikan di situ.

SEMAKIN KITA BELAJAR DAN TAHU, SEMAKIN KITA TAHU BAHWA KITA SEBENARNYA TIDAK TAHU APA-APA.

Sokrates berkata bahwa semakin kita memahami sesuatu, akan semakin banyak pertanyaan yang muncul.

KETIKA KITA TIDAK TAHU TENTANG SESUATU, KITA TIDAK TAHU BAHWA KITA TIDAK TAHU TENTANG SESUATU TERSEBUT.

Ini adalah kebalikan dari yang di atasnya, dan sering disebut Dunning-Kruger Effect. Ketika kita tidak tahu bahwa kita tidak bisa menyanyi, maka bisa jadi kita akan terus tetap menyanyi dengan suara sumbang dan berkata bahwa suara kita enak. Atau misalnya kita diperkenalkan terhadap diet yang diklaim sukses dan sehat padahal kita tidak tahu sama sekali mengenai nutrisi, maka ketika ahli nutrisi yang berkata bahwa diet yang sedang kita jalani itu berbahaya bagi kesehatan, bisa jadi kita malah merasa bahwa kita lebih ahli dan lebih tahu banyak daripada ahli nutrisi tersebut.

SEMAKIN TAKUT KITA UNTUK GAGAL, SEMAKIN BESAR KEMUNGKINANNYA BAGI KITA UNTUK BENAR-BENAR GAGAL.

Ini sering disebut “self-fulfilling prophecy”. Orang yang takut untuk gagal justru mengasosiasikan dirinya dengan kegagalan. Dia terus mengatakan pada dirinya bahwa dirinya selalu ada di ujung tanduk kegagalan. Hal ini menyebabkan tindakan-tindakan yang diambilnya malah justru mendorongnya pada kegagalan. Misalnya, seseorang akan ujian akhir. Tetapi karena saking takutnya untuk gagal terhadap salah satu mata pelajaran tersebut, dia belajar berlebihan hingga jatuh sakit. Atau dia justru menghindari melihat buku mata pelajaran tersebut karena begitu melihat buku tersebut rasa takut itu langsung timbul.

SEMAKIN BANYAK SESUATU TERSEDIA, SEMAKIN KITA TIDAK MENGINGINKANNYA.

Sebuah kue yang diberi oleh kerabat dari oleh-oleh berpergian terasa sangat nikmat karena hanya ada sedikit. Coba jika kita bisa pergi sendiri ke tempat tersebut dan beli ber dus dus kue itu, pasti ketika kita sampai di rumah kue tersebut tidak lagi menjadi menarik.

SEMAKIN KITA JUJUR KEPADA SESEORANG MENGENAI KEKURANGAN-KEKURANGAN KITA, SEMAKIN ORANG AKAN BERPIKIR BAHWA KITA LUAR BIASA.

Untuk menjadi jujur dan terbuka terhadap kekurangan terhadap orang lain, istilahnya disebut “vulnerable”. Tetapi hal yang luar biasa dari menjadi “vulnerable” adalah semakin kita tidak merasa malu untuk dipandang “tidak sempurna”, malah justru orang akan semakin melihat kita sempurna.

Demikian sekilas paradoks sehari  hari yang bisa saya bagikan. Kapan-kapan bikin lagi part selanjutnya . Bila berkenan Baca post-an lainnya di kategori Sosial di blog ini, Terimakasih