Kenapa hari Senin terasa seperti satu Minggu

Kenapa hari Senin terasa seperti satu Minggu
freepik.com

KENAPA HARI SENIN TERASA SEPERTI SEMINGGU? DAN KENAPA HARI MINGGU TERASA SEPERTI SATU JAM?

Memang, aku tidak akan bisa mengendalikan ketetapan takdir, tapi aku bisa mengubah makna takdir tersebut di dalam otakku, setidaknya agar aku tidak terlalu terluka

Diantara kita mungkin pernah merasakan siklus paling membosankan dalam hidup.
Rasa-rasanya ingin kembali memakai baju putih abu-abu.

Namun, jika kita ingat kembali keinginan kita ketika masih memakainya, kita pasti akan menemukan keluhan,

Gini amat sekolah, pengen cepet-cepet lulus dan kerja.

Absurd sekali memang, tapi, nyatanya, dunia kerja tidak semudah yang dibayangkan.

Dulu, secara idealis pun kita juga banyak yang terpelanting pada kenyataan bahwa jurusan-jurusan yang kita ambil di sekolah malah jauh dari apa yang jadikan profesi saat ini.

Hal itulah yang membuat mereka merasa terhimpit pada siklus kehidupan sosial yang begitu membosankan.

Tiap hari melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun, kalaupun beruntung tentang kenaikan jenjang karir, itupun memerlukan proses yang sangat lama. Sialnya, beberapa dari kita sering mengutuk sebuah proses.
Upaya yang begitu lama kadang membuat pikiran kita terjada pada kalimat.

Ini, kok, nggak selesai-selesai?

Alhasil, menjalani hari pun begitu sulit.

Namun, sebenarnya yang memberatkan kita itu takdir atau kita sendiri? Hari-hari yang begitu berat atau pikiran kita sendiri yang memberatkan kita?


Berikut beberapa motode dalam memaknai hari

Sesekali coba hitung hari-hari anda dari senin sampai minggu.
Dalam kurun waktu 7 hari itu, niscaya anda hanya akan menemukan sebuah kebahagiaan atau penderitaan yang sifatnya fana.

  • Senin : Mungkin anda sangat membenci hari ini, rasanya begitu jauh anda harus menunggu hingga bisa menggapai libur di hari minggu lagi.
  • Selasa : Anda masih sangat bosan, hiruk-pikuk perkantoran dan aktivitas yang itu-itu saja dilakukan.
  • Rabu : Sepertinya anda mulai terbiasa.
  • Kamis : Anda mulai menikmati, beberapa hari lagi sudah mendekati minggu.
  • Jumat : Jeda paling hening diantara hari yang lainnya.
  • Sabtu : Besok anda sudah bisa memeluk minggu yang anda rindukan.
  • Minggu : Tidak ada yang lebih tenang dari berpelukan dengan guling dalam waktu yang sangat lama hingga akhirnya anda tak sadar sedari siang aku tertidur pulas, dan…

Sial! Sudah sore hari? Besok senin lagi, ya?

Terkadang, siklus hidup sangatlah membosankan.
Apa yang salah dengan semesta ini? Atau anda sendiri yang terlalu bodoh dalam memaknai?
Apa yang membuat diri anda terpelanting pada jurang depresi dalam menjalani kehidupan?

Sepertinya, semua itu muncul dari isi kepala anda sendiri.
Perhatikan, apakah anda menjalani hidup dengan sebuah kerelaan atau justru dengan berbagai tuntutan?

Terkadang, manusia secara tidak langsung memperTuhankan dirinya sendiri di hadapan Tuhan.

Menuntut segala sesuatu, siklus semesata dan takdir harus berjalan sesuai isi kepala mereka.
Dan pada akhirnya, kenyataan acap kali menamparnya dan dengan bodohnya mereka bertanya lagi,

Kenapa segala sesuatu harus seperti ini?

Seharusnya manusia memiliki kesadaran bahwa dunia selalu punya sebuah realita, namun intelektualitas juga selalu memiliki sebuah makna untuk mengubah persepsi mereka.

Dunia memang seperti ini adanya, namun makna mampu mengubah itu semua.

  • Bukan kah manusia membuat simbol-simbol?
  • Kenapa warna kuning bisa disebut kuning?
  • Kenapa kuning bisa dimaknai dengan sebuah kematian pada bendera yang tertanggal pada teras rumah duka?
  • Bukankah manusia sendiri yang memberi pemaknaan itu?
  • Tapi kenapa manusia begitu bodoh untuk memaknai takdir mereka sendiri sebagai manusia yang bebas?

Ibarat warna, bukankah hidup bisa dimaknai seperti warna-warna yang kita mau?

Nah, pada kurun waktu 7 hari tersebut, anda sebenarnya tidak benar-benar akan sengsara selamanya ataupun bahagia. Jadi, terbiasalah dengan siklus ini.

Sekian dari saya, terimakasih.